Kisah Unik dari Uje.. (rahimahullah)

BANYAK kisah tentang bagaimana Ustadz Jeffry Al-Buchory atau biasa dipanggil Uje, berdakwah.

Hal hal kecil yang patut dicontoh dari Ustadz Uje , pengakuan dari isterinya Pipik pada saat Taji’ah, ada yang perlu dicatat dan semoga bisa menjadi contoh yang baik walau terlihat kecil di mata manusia, tetapi bisa jadi sangat besar di sisi Allah:

Suka Menolong Pedagang

Bila beliau sedang berada di perempatan jalan, Almarhum selalu berusaha membeli apapun terhadap pengasong yang berjualan di lampu merah, apapun barangnya. Saya sempat tanya kepada suami saya , “Bi , buat apa beli kemoceng? Kan kita masih punya” , kataku.  Jawab beliau,”Mungkin nanti kita membutuhkannya !, dan yang paling terpenting biar si penjual itu bisa membawa rezeki hari ini buat keluarga di rumahnya dari hasil jualannya.”

Dan bila ada pengemis, beliau selalu memberi semangat kepada anak anaknya, ayo siapa yang ingin sedekah…maka Almarhum yang sangat dihormati anak anaknya, bersegera disambut oleh  semua anaknya, mereka berebutan mencari sesuatu di kantong untuk memberikan kepada pengemis…

Bencong yang Bertaubat

Suatu kali Uje sedang makan siang di sebuah resto pinggiran jalan. Namanya juga tempat makan dekat pinggir jalan, seorang bencong masuk dan langsung mengamen.

“Idih, endang, endang, ada Uje di sindang bow,” ujar si bencong  itu. Uje memang terkenal.

“Ayo, sini masuk, duduk di sini,” ujar Uje.

Bencong itu kebingungan.

Uje berujar lagi, “Ayo masuk, duduk di sini sama saya. Kamu belon makan siang kan? Ayo duduk, makan sama saya.”

Si bencong mendadak jadi jaim. Rumpinya langsung hilang. “Maaf Uje, saya tadi udah makan.”

“Udah deh … sama ustadz jangan coba-coba boong. Itu dosa namanya,” samber Uje dengan cepat.

Akhirnya bencong itu duduk satu meja dan makan bareng Uje. “Iya iya, Uje.”

Setelah makan siang, bencong itu bertanya sambil terharu. “Uje, saya mau tanya kenapa Uje nggak malu ajak saya makan bareng?”

Uje tesenyum, kemudian menjawab, “Kenapa saya mesti malu? Kamu kan sama dengan saya, sama-sama mahluk ciptaan Allah. Saya wajib menghargai kamu apa adanya.”

Bencong diam dan makin terharu.

Besoknya bencong muncul di masjid.  Tidak memakai make up dan rok. Tapi mengenakan kopiah, baju koko, dan sarung. Subhanallah! [em/isps]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s