Doktor-doktor Liberalis

 

Doktor-doktor Liberalis

oleh : Akmal Sjafril

Di sampul depan sebuah buku, tertulislah sebuah kutipan sanjungan Ahmad Syafii Maarif kepada Nurcholish Madjid: Setiap pembaru di mana pun di muka bumi ini, hampir pasti dilawan, dicaci maki, dan dimusuhi, tetapi ajaibnya diam-diam diikuti. Ini juga berlaku atas Nurcholish Madjid yang telah bekerja keras untuk mengawinkan keislaman dan keindonesiaan.

Beginilah cara kalangan liberalis ’mempertinggi derajat’ sesama mereka di depan publik; dengan sanjung-sanjungan yang sebenarnya tak layak untuk dilakukan oleh seorang Muslim. Jika Anda membaca buku Argumen Pluralisme Agama, Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an karya Abd. Moqsith Ghazali, maka sanjung-sanjungan semacam ini tidak hanya bisa dijumpai di sampul belakang – sebagaimana lazimnya – tapi juga dikemas secara masif dalam lima halaman paling depan. Meskipun yang memuji hanya yang itu-itu saja, namun efeknya bisa jadi cukup dahsyat di mata orang awam.

Kita bisa membayangkan anak-anak muda yang datang dengan keluguan yang dibawanya dari madrasah atau pesantren. Mereka tiba di kampus IAIN/UIN dengan sejuta harapan untuk memperdalam ilmu-ilmu keislamannya. Di kampusnya, mereka disodori sekian banyak buku, termasuk buku Abd. Moqsith Ghazali tadi, yang juga seorang doktor jebolan UIN Syarif Hidayatullah. Puji-pujian setinggi langit datang dari nama-nama yang sering mereka dengar di kampungnya dahulu: Mustofa Bisri, Ahmad Syafii Maarif dan seterusnya. Nama-nama para penyanjung ini pun sudah disanjung-sanjung di tempat asalnya. Maka jadilah mereka pengikut setianya, karena kepolosan dan kebodohannya sendiri.

Ideologi liberalisme yang sejati sebenarnya tidaklah ada, karena kalangan liberalis selalu memanfaatkan keterbatasan informasi. Sebagaimana mahasiswa-mahasiswa malang tadi, yang terjebak karena melihat sanjung-sanjungan yang diberikan oleh orang-orang yang juga disanjung-sanjung. Kebanyakan di antara mereka takkan bisa menjelaskan pemikiran penting apa yang sudah disumbangkan oleh Gus Dur, meskipun mereka dapat dengan yakin mengatakan bahwa Gus Dur memang seorang guru bangsa, pahlawan, wali Allah, dan seterusnya.

Tak jauh beda dengan buku Moqsith yang dipuja-puji itu, yang kemudian disanjung lagi oleh Syafii Maarif dalam rubrik Resonansi di surat kabar Republika yang diberinya judul: Mendudukkan Pluralisme. Judul artikel ini jauh dari isinya, karena Syafii Maarif tidak pernah mendudukkan pluralisme, bahkan menyinggung definisinya pun tidak.

Buku yang dipuji-pujinya itu pun tidak sesuai dengan judulnya, karena pada akhirnya solusi yang ditawarkannya bukanlah kembali pada Al-Qur’an (padahal Moqsith meraih gelar doktor dalam bidang Tafsir Qur’an), melainkan memilih ayat-ayat yang ’pluralis’ dan mengabaikan ayat-ayat yang ‘tidak pluralis’. Gelar doktoral yang mentereng itu ternyata dapat diperoleh hanya dengan mengatakan bahwa ayat-ayat tentang perang itu sifatnya kondisional (perang mana yang tidak kondisional?).

Sasaran tembak kaum liberalis memang kalangan awam yang memiliki jarak pandang yang sangat pendek. Maka kalangan liberalis pun terbagi ke dalam dua kasta yang cukup ekstrem: kalangan intelek dan kalangan akar rumputnya. Tidak jauh beda dengan aliran komunis di Uni Soviet dahulu atau di Cina, di mana kalangan elit menyuruh kalangan akar rumput untuk hidup prihatin demi negara sementara mereka sendiri berlaku sebaliknya, kalangan liberalis yang intelek pun memanfaatkan akar rumputnya sebagai tunggangan belaka.

Orang-orang malang ini, yang tak paham dirinya sedang dimanfaatkan siapa, memang sering bertindak tidak wajar. Fanatisme terhadap Gus Dur di masa hidupnya telah beralih pada kemusyrikan sejati sepeninggalnya. Ahmad Syafii Maarif, sebagai mantan ketua salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia yang didirikan secara khusus untuk menentang khurafat dan kemusyrikan, tidak pernah berkata sepatah kata pun untuk membebaskan orang-orang ini dari kejahilannya. Sebab mereka harus dibiarkan tetap bodoh. Kalau tidak, siapa yang akan dimanfaatkan?

Menengok kembali sanjungan Syafii Maarif kepada Nurcholish Madjid, kita akan terpana melihat bagaimana seorang doktor lulusan Chicago University bisa membuat perbandingan yang begitu kasar dan menarik kesimpulan begitu mudahnya. Ia hanya mengatakan bahwa setiap pembaru pasti dicela, dicaci maki dan seterusnya, kemudian memperbandingkannya dengan Nurcholish Madjid.

Memang benar, setiap pembaru biasanya selalu mendapat tantangan, dan kita juga memahami bahwa kalimat ini tidak keliru, karena tidak menyatakan bahwa semua yang mendapat tantangan adalah pembaru (logika matematika: jika A maka B, bukan berarti jika B maka A). Akan tetapi, jika kemudian ciri ini (yaitu dicela dan dicaci maki) dijadikan hujjah untuk menyebut Nurcholish Madjid sebagai pembaru, maka jatuhlah martabat para doktor dari Chicago University.

Sebab, yang dicela dan dicaci itu bukan hanya pembaru, tapi juga Musailamah sang nabi palsu, Pol Pot, Hitler, Mussolini, Ariel Sharon, dan George W. Bush. Maka, menyebut Nurcholish sebagai pembaru hanya karena ia selalu dicaci (dan diam-diam diikuti) adalah sama dengan menyebut dirinya sendiri sebagai kera karena sama-sama punya telinga, hidung, tangan, kaki dan bokong.

Belakangan, seorang doktor lainnya juga melakukan kesalahan yang sama. Luthfie Assyaukanie, yang sangat dihormati di kalangan liberalis, bersaksi di hadapan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang UU Penistaan Agama. Dengan ringannya, ia mengatakan: ”Apa yang dilakukan oleh Lia Aminudin sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Kesalahan Lia Eden sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad waktu munculnya Islam.”

Pada titik ini, sulit bagi Luthfie Assyaukanie untuk mempertanggungjawabkan gelar doktornya, bahkan juga statusnya sebagai seorang Muslim. Dari sisi apa Luthfie melihat persamaan antara Lia Eden dan Rasulullah saw.? Keduanya memang sama-sama punya tangan, hidung dan kaki, tapi itu masih belum cukup untuk mengatakan ”sama”. Keduanya juga ada yang mencaci dan memuji, namun itu pun masih belum cukup.

Lia Eden hanya mengutuk dan menyatakan Islam telah dihapuskan, sedangkan Rasulullah saw. tak pernah mengatakan yang demikian kepada kalangan Ahli Kitab. Sebaliknya, beliau justru mengajak semua orang untuk kembali pada ajaran Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as., dan Nabi ’Isa as. yang sebenarnya. Lia Eden duduk di atas singgasananya dengan angkuh, sedangkan Rasulullah saw. menolak sahabat-sahabatnya berdiri menyambutnya jika ia datang kepada sebuah majelis. Pendekatan dakwah Rasulullah saw. jauh berbeda dengan pendekatan dakwah Lia Eden dalam segala levelnya.

Tidaklah wajar jika seorang doktor melakukan perbandingan yang begitu naif dan miskin data, kecuali jika memang misinya adalah mengombang-ambingkan kalangan akar rumput yang jauh dari tradisi intelektual.

Sebagai seorang Muslim, kita juga sulit membayangkan Luthfie bisa dengan entengnya mengatakan metode dakwah Rasulullah saw. sebagai sebuah kesalahan. Padahal, jika Rasulullah saw. berbuat salah, Allah SWT pasti akan meluruskannya, bahkan mengabadikannya dalam Al-Qur’an, dan Rasulullah saw. takkan menutup-nutupinya. Bagaimana mungkin dakwah Rasulullah saw. dikatakan salah, sedangkan dua dasawarsa terakhir dalam hidupnya digadaikan di jalan dakwah? Sepanjang masa kenabian itu, apakah wajar Rasulullah saw. mengulang-ulang kesalahan yang sama, sedangkan Allah SWT tidak menegurnya?

Para ulama sejak dahulu sudah memperingatkan tentang bahayanya mempermainkan ilmu. Satu-satunya motivasi yang benar dalam mencari ilmu adalah untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. Jika keimanan tak meningkat, maka ilmu itu tak bisa dikatakan bermanfaat. Sebaliknya, ilmu justru bisa menjadi beban berat bagi pemiliknya di akhirat kelak.

Hakim yang adil bisa mendapatkan surga tertinggi, tapi juga bisa dijebloskan ke neraka yang paling pedih. Orang-orang yang memiliki ilmu sebagai peneliti, atau memiliki kharisma seorang pemimpin, atau mendapatkan kekuasaan yang sangat luas, atau gelar-gelar akademis yang menyilaukan mata, pada akhirnya akan disuruh mempertanggungjawabkan segala kelebihan yang dimilikinya itu. Apakah ilmu itu membuatnya merintih lebih keras ketika mendoakan umat Nabi Muhammad saw., ataukah justru membuatnya makin angkuh terhadap mereka? Apakah ilmu dan gelar membuatnya semakin rendah hati dan banyak menolong, atau justru membuatnya makin lihai memanfaatkan kejahilan masyarakat?

mualaf

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s