Mengenal Lambang Bulan Sabit Merah Dan Palang Merah

sejarah lambang bulan sabit merahMelihat tayangan Indonesian Lawyers Club (ILC) mengenai plesir anggota dewan, dan juga membahas tentang apakah Logo Palang Merah Indonesia diganti dengan Bulan Sabit Merah, hingga kunjungan kerja dewan dari DPR-RI untuk membahas mengenai logo tersebut dibeberapa negara, Denmark dan Turki. Palang Merah untuk Denmark dan Bulan Sabit Merah untuk Turki.

Ada hal yang menarik dari komentar yang memang selalu terlihat nyeleneh sebagaimana kata Ridwan Saidi, jika dulu ia berkata bahwa Fatahillah memperjuangkan Jayakarta hanya sebagai pasukan bayaran dan bukan karena semangat jihad untuk mempertahankan Jayakarta dari serangan Belanda, kini ia mengatakan bahwa lambang Bulan Sabit Merah sebenarnya datangnya bukan dari Islam, tetapi dari Bosnia dari lambang seorang Dewi keberuntungan lalu dijadikan lambang oleh Turki ketika perang dunia pertama. Dan ia juga menganggap bahwa Ibnu Saud ketika memberontak dalam mendirikan Arab Saudi, juga memakai lambang Bulan Sabit Merah lalu benderanya diganti dengan lambang kalimat Syahadat.

anomali simbol bulan sabit

Baiknya kita langsung saja mempelajari mengenai sejarah tim medis dari Bulan Sabit Merah dan Palang Merah dari berbagai versi sejarahnya. Sehingga memberikan gambaran yang jelas dan sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi, bukan sekedar analisa tetapi mejadi sebuah fakta sejarah.

Tahukah anda? Bahwa lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang kini digunakan oleh organisasi penolong yang bersifat semesta dan disemua Negara merdeka pasti memilikinya, ternyata telah ada sebelum organisasi tersebut lahir.

Selama ini kita hanya tahu bahwa lambang Palang Merah atau Bulan Sabit Merah ada setelah seorang warga Swiss yang bernama Jean Henry Dunant membentuk organisasi penolong yang kini dikenal dengan Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional.

Lambang Palang Merah atau Salib Merah sudah mulai digunakan oleh tim kesehatan angkatan perang pada saat pasukan Salib berhadapan dengan pasukan Muslim pada Perang Salib. Saat itu ordo Tempelier menggunakan lambang Salib Merah (bukan seperti lambang palang merah yang digunakan saat ini, tetapi betul-betul berbentuk salib/ panjang dibawah) diatas dasar warna putih. Ordo ini adalah tim kesehatan bagi Pasukan Salib yang sakit atau terluka.

Pada 1580, seorang warga Italia, Camillo de Lellis yang kebetulan adalah anggota militer Italia mendirikan suatu tim yang memberikan perawatan bagi korban yang terluka dan sakit pada Angkatan Bersenjata Italia. Tim ini bernama “Order of Samaritans”, dan berlambang Palang Merah diatas kain hitam serta menggunakan jubah hitam dengan lambang Palang Merah.
Di Swiss pada tahun 1847 berdiri sebuah organisasi bantuan, organisasi ini didirikan karena adanya ketegangan antar kelompok di Zurich. Tujuan dari didirikannya organisasi ini adalah untuk membantu staff medis angkatan bersenjata Swiss bila kekerasan terjadi. Anggota tim menggunakan ban lengan merah berlambang Palang Putih (diambil dari bendera Federal Swiss) di lengan kirinya sehingga membedakan tim kesehatan ini dengan kelompok yang lainnya (baik tentara maupun kelompok yang sedang bertikai).

Pada akhir bulan Juni tahun 1859 terjadi perang antara Italia yang dibantu Perancis melawan Austria, perang ini terjadi di suatu Desa di Italia bagian Utara yang bernama Solferino. Pada perang ini, Dunant terkesima akibat banyaknya korban perang yang tidak tertolong. Jumlah yang tewas akibat kurangnya perawatan adalah 100 kali dari korban yang tewas disaat perang terjadi. Ini terjadi karena banyaknya dokter dan perawat dari kedua belah pihak yang dibunuh atau ditawan oleh lawannya masing-masing. Sehingga begitu ia pulang ke Jenewa, ia segera menulis buku tentang idenya membentuk tim kesehatan yang membantu tim kesehatan militer dan dibentuk disaat damai. Organisasi ini harus di syahkan oleh pemerintahnya sebagai organisasi penolong yang membantu para korban perang. Tim ini harus diberi perlindungan dari tindakan kekerasan, penawanan dan penghambatan pelaksanaan tugas medis bagi para korban.

Dengan dukungan empat rekannya, Dunant berhasil meyakinkan pemerintah Swiss untuk mengadakan Konferensi Internasional guna membentuk organisasi penolong tersebut. Akhirnya pada tahun 1864 Konferensi tersebut terlaksana dengan diikuti oleh 16 negara dan semua Negara tersebut menyetujui untuk membentuk organisasi penolong bagi korban perang dan melindungi serta menghormati para anggotanya yang sedang bertugas. Perjanjian Internasional untuk menghormati dan melindungi personil medis yang bertugas di medan perang dikenal dengan Konvesi Jenewa 1864. Selain itu terbentuklah sebuah Komite Internasional dari Organisasi tersebut, organisasi ini bernama “Komite Internasional untuk Bantuan bagi para Tentara yang Cidera”. Komite ini saat ini dikenal dengan Komite Internasional Palang Merah.

Komite Internasional dan Organisasi Nasional (bersama-sama dengan unit kesehatan militer masing-masing negara) menggunakan lambang Palang Merah di atas Dasar Putih sebagai pengenal dan pembeda. Lambang Palang Merah diatas dasar Putih diambil sebagai penghormatan terhadap negara Swiss, karena di negara inilah organisasi itu lahir atas ide lima orang warga Swiss.

Organisasi Penolong hadir di Indonesia pertama kali pada tahun 21 Oktober 1873 – dengan lambang Palang Merah – yaitu dengan dibentuknya Palang Merah Belanda Cabang Hindia Belanda (NERKAI – Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie). Pada tahun 1932 Dua orang dokter Indonesia, dr. Bahder Djohan dan dr. RCL. Sendoek mengusulkan dibentuknya Organisasi Penolong yang dikelola oleh bangsa Indonesia namun tidak disetujui, sampai akhirnya Indonesia merdeka dan dibentuklah Palang Merah Indonesia (PMI) pada 17 September 1945.

***

Lambang Bulan Sabit Merah sebagai lambang kesehatan yang mendampingi dan membantu angkatan perang yang terluka atau sakit memiliki sedikit coretan sejarah, sehingga sulit untuk ditelusuri. Namun dari literatur yang terbatas dapat diperoleh catatan sejarah bahwa lambang inipun sudah ada sejak sebelum organisasi cetusan Dunant lahir.

Bulan Sabit Merah sebagai organisasi kemanusiaan dan bagian dari Gerakan Palang Merah dan Bulan sabit Merah Internasional diperkenalkan kembali oleh Khalifah Turki Utsmani pada tahun 1876, yaitu disaat Turki berperang melawan Kekaisaran Rusia. Pada saat itu organisasi penolong Turki dan pemerintah Turki melansir kepada masyarakat internasional bahwa mereka tidak menggunakan lambang Palang Merah untuk organisasi penolong dan tim kesehatan militernya. Alasannya adalah, akan melukai nurani dan agama para tentara Turki yang mayoritas Islam bila menggunakan lambang Palang untuk tim kesehatan. Namun begitu pihak militer dan pemerintah Turki akan tetap menghormati dan melindungi tim kesehatan Rusia yang menggunakan lambang Palang Merah. Komite Internasional Palang Merah mengungkapkan bahwa Pemerintah dan tentara Turki tetap menghormati dan melindungi tim kesehatan Rusia dan Negara lain walaupun mereka menggunakan lambang Palang Merah.

Walaupun organisasi ini diangkat kembali oleh Turki pada tahun 1876, sebenarnya Perhimpunan Nasional Turki telah berdiri pada tahun 1868. atau empat tahun setelah Komite Internasional untuk Bantuan bagi para Tentara yang Cidera dibentuk. Turki telah ikut menandatangani Konvensi Jenewa 1864 yang kemudian disusul dengan dibentuknya Perhimpunan Nasional Turki.

Menurut dr. Su’dan dalam bukunya yang berjudul Al Qur’an dan Kesehatan Masyarakat, lambang Bulan Sabit sebagai lambang kesehatan telah lama digunakan di kalangan Islam.
Bulan Sabit Merah sebagai lambang kesehatan telah digunakan di Indonesia, yaitu pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dimana pada saat itu organisasi Muhammadiyah telah menggunakannya. Pada awal abad 21 ini telah hadir dua organisasi yang menggunakan lambang Bulan Sabit Merah sebagai lambang organisasinya, yaitu BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) dan MER-C (Medical Emergency and Rescue Committee) dan Itulah perjalanan lambang kasih sayang di tengah-tengah kekerasan, dua buah lambang kasih sayang namun satu lambang yang direpresentasikan yaitu kasih sayang bagi semua umat.

Tulisan ini telah dimuat di majalah Insani Islamic Digest Edisi 42 bulan Oktober 2005. Tulisan ini belum di edit seperti yang dimuat di majalah Insani Digest Edisi 42/ ktober 2005. (dinukil juga dari rudikomarudin.blogspot.com)

SALIB MERAH SEBAGAI SIMBOLITAS TEMPLAR

lambang palang merah dan bulan sabit merah

Lambang salib merah dengan panjang silang yang sama yang sekarang dipakai lambang Gerakan di dunia internasional dan juga di Indonesia adalah lambang salibnya Ksatria Templar (Knights of Templar), yang menurut salah satu buku paling kontroversial pada abad 20 Holy Blood Holy Grail disebutkan, bahwa para Templar merupakan lambang dan perwujudan yang sempurna dari nilai-nilai agama Kristen.[7] Selain itu para Templar juga didefinisikan sebagai sosok pejuang yang memegang peranan terpenting dalam Perang Salib, dan lebih dari itu mereka dikenal sabagai Ksatria Kristus.[8]

salib sebagai simbol templarTerlepas dari kontroversi di kalangan internal teolog Kristen atas misteri yang menyelimuti Ksatria itu, patut diingat bahwa pada tahun 1146 M, kelompok Templar memakai gambar salib merah yang terkenal, yaitu salib dengan panjang silang yang sama (salib pattee). Dengan salib pattee yang digambarkan pada pakaian mereka, para ksatria ini menemani Raja Louis VII dari Prancis pada saat Perang Salib. Pada saat inilah mereka menetapkan karir mereka untuk semangat berperang dengan sifat membabi buta yang menggila, serta kesombongan yang membahayakan.[9]

Opini publik telah menganggap bahwa bulan sabit (al-Hilaal) sebagai simbol Islam. Ia kerapkali dipertentangkan dengan lambang salib dalam Perang Salib (The Crusades). Bagi kaum Muslimin menghancurkan salib merupakan aksi simbolis untuk menunjukkan kekalahan Kristen dan kemenangan Islam. Saladin dipuji oleh Ibnu Jubayr dalam ode kemenangan dalam karyanya karena telah menghancurkan salib mereka dengan kekuatan militernya di Hittin. Ibn Abi Thayyi menceritakan tentang salib yang direbut di Hittin, “Saladin membawa pulang sebuah salib sebagai rampasan perang, yang berupa sepotong kayu berlapis emas dan dihiasi dengan batu-batu berharga, yang menurut mereka telah menjadi tempat penyaliban mereka. Salib berlapis emas yang ada di Kubah Batu tidak diturunkan dengan perlahan.” Ibnu Saddad menjelaskan bahwa salib itu dilemparkan ke tanah meski ukurannya sangat besar.

Setelah merebut Yerusalem, Saladin mengirim lambang-lambang kemenangan besarnya kepada khalifah di Baghdad. Lambang kemenangannya yang paling berharga adalah salib yang dipasang di puncak Kubah Batu di Yerusalem, “Salib yang terbuat dari tembaga dan dilapisi dengan emas itu dikubur di bawah gerbang Nubain (di Baghdad) dan selanjutnya diinjak-injak.”[1] (Carole Hillenbrand, 2005, terj.)

Menariknya, dalam bukunya yang mendapatkan penghargaan King Faesal itu, Hillenbrand memberikan catatan dari hasil penelitiannya yang cukup mengejutkan, bahwa di dalam retorika kaum Muslim ini, yang dijadikan pesaing salib Kristen adalah Alqur’an atau menara. Bukan bulan sabit, seperti yang terjadi kemudian. Meskipun pada awal abad kesebelas, ketika katedral Armenia Ani di timur Anatolia diubah menjadi sebuah masjid, salib di puncak kubahnya diturunkan dan diganti dengan bulan sabit perak.[2]

Sudut pandang historis di atas, sepertinya mengilhami Buku The Complete Dictionary of Symbols untuk menyebut bulan sabit sebagai a symbol of Islamic expansion[3] (Jack Tresidder, 2005). Tampaknya Buku itu merujuk kepada fakta sejarah dimana Islamic Empire Turki Ustmani melakukan perluasan wilayahnya ke Eropa dengan membawa bendera berlambangkan bulan sabit merah.

Kendati pun demikian, The Complete Dictionary of Symbols menyebutkan bahwa bulan sabit bukanlah monopoli simbol Islam. Pada tahun 341 SM, di Byzantium mata uang koin dicetak dengan lambang bulan sabit dan bintang.[4] Selain itu, dalam budaya Hindu dan Celtic, bulan sabit sebagai lambang yang akan mengubah kepada keabadian. Di Mesir, bulan sabit dan cakram melambangkan kesatuan ketuhanan (divine unity). Sementara dalam dewi-dewi Yunani dan Romawi, mengenakan lambang bulan sabit pada rambut mereka sebagai simbol keperawanan dan kelahiran. Demikian pula pada Maria Sang Perawan yang menggunakan lambang bulan sabit sebagai simbol kesucian.

Meski penelusuran akar historis The Complete Dictionary of Symbols di atas menunjukkan bahwa lambang bulan sabit itu bukan monopoli Islam, tetap saja statemen awal penjelasannya adalah, “Crescent, the emblem of Islam, signifying divine authority, increase, ressurection and, with a star, paradise. Karena itu, menurut al-Mausu’ah al-’Arabiyyah al-’Alamiyyah, pada era sekarang ini, bulan sabit telah menjelma menjadi syi’aar (simbol) umat Islam. Lantas al-Mausu’ah menjelaskan landasan syar’i (aspek dalil) bulan sabit (al-hilaal) sebagai simbol Islam, yaitu dengan merujuk kepada akar kata al-Ahillah, yakni bentuk plural daril al-hilaal dalam Surat Al-Baqarah ayat 189. Dengan bulan sabit itu, sambung al-Mausu’ah, waktu-waktu haji, puasa, membayar zakat dan kafarat dan bentuk ibadah lainnya dapat ditentukan. Dan inilah kenapa ayat itu menyebut kata al-Ahillah.[5]

[1] Carole Hillenbrand, The Crusade; Islamic Perspective, terj. Heryadi, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2005), cet. Ke-1, h. 381-382
[2] Ibid, h. 385
[3] Jack Tresidder (General Editor), The Complete Dictionary of Syimbols, (San Francisco: Chronicle Books LLC, 2005), p. 127
[4] Ibid.
[5]al-Mausu’ah al-’Arabiyyah al-’Alamiyyah (Ensiklopedi Arab Internasional), (Riyadh: Muassasah A’maal al-mausu’ah, 1999), Jilid 26, cet. Ke-12, h. 113
[6] Jack Tresidder (General Editor), op. cit., p.130
[7] Henry Lincoln ect, Holy Blood Holy Grail,terj. Isma B. Koesalamwardi, (Jakarta: Ufuk Press, 2006), cet. Ke-1, h. 60
[8] Ibid., 55, 61
[9] Ibid., h. 63

MISTERI KEMUNCULAN KATA ’PALANG’
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia[1](KBBI) kata “ Palang” merupakan batang kayu batang kayu (bambu, besi, dsb) yg dipasang melintang pd jalan, pintu, dsb. Atau kata palang dalam kata kerja seperti memalang, memalangi, dan memalangkan yang bermakna kegiatan yang terkait dengan usaha menghalangi dengan sesuatu untuk menahan atau merintangi. Uniknya kata palang beririsan makna dengan frase kata salib[2], yaitu dua batang kayu yang bersilang; dan tanda silang. Sementara ketika ditransliterasikan kedalam bahasa Inggris, palang senada dengan bahasa inggris yaitu “Cross”. Cross sendiri diartikan sesuai dalam kamus bahasa inggris yang salah satu maknanya adalah salib. Transliterasi kata dalam bahasa Inggris yaitu “ Red Cross” menjadi dipertanyakan menjadi palang Merah, bukan Salib Merah. Lihat saja kata cross oneself artinya membuat tanda salib[3], sedangkan kata Palang bahasa Inggrisnya adalah bolt atau bar[4]. Atau kalau kita mau memaknai kata metal cross saja artinya adalah Salib Merah bukan Palang Logam[5]. Yang menjadi aneh lagi tentang pemaknaan kata Red Cross adalah kalau kita bentuk kata lain seperti master’s cross bermakna salib berat[6] bukan palang yang berat.

Kerancuan tata bahasa telah masuk dalam penyerapan kata salib menjadi Palang, khususnya dengan lambang Red Cross। Bentuknya yang berupa salib seimbang atau tanda plus berwarna merah, dimaknai dengan kata palang bukan kata salib। Lihat saja kata Salib dalam KBBI [7] bermakna tanda silang seperti simbol red cross.

Sejarah lambang Red Cross sendiri merupakan symbol pasukan Knight of Templar dalam perang Salib (crusade) yang berlangsung dua abad[8]. Pasukan Templar merupakan unit khusus dalam kemiliteran Tentara Kristen yang menggunakan simbol Red Cross seperti saat ini. Pasukan itu terdiri dari sub unit Merpati dan Sub Elang. Bedanya adalah penggunaan warna dasar putih bagi Templar Sub unit elang yang terkenal kejam dan sadis, sedangkan Templar sub unit Merpati dengan warna dasar biru dikenal bersahabat dengan pihak muslim dan banyak menggunakan bahasa arab. Penggunaan kata salib sendiri dalam bahasa arab adalah sholiibun[9] (Cross), sedangkan Red Cross ditransliterasikan menjadi (sholiibul ahmar). Istilah kata Palang sendiri juga selaras dengan kata Sholib (bahasa Arab)[10].

Masyarakat Indonesia tidak terlepas dari budaya keTimuran dengan menonjolkan sifat saling menghargai dan berusaha sebisa mungkin menghindari konflik atau kekerasan. Bisa jadi, karena pengaruh keTimuran kita, penggunaan kata Salib menjadi Palang adalah upaya penghalusan bahasa atau bisa jadi sebuah pelencengan makna awal agar masyarakat tidak terlalu peduli dengan pemakaian lambang salib hingga bernama palang. Namun sebuah penelaahan agar kita dapat merumuskan asal muasal kata hingga kita tidak terjebak dalam kerancuan, amatlah penting kita sikapi.

Terkadang lambang adalah simbol keyakinan, namun dengan usaha sosialisasi yang begitu deras maka orang menjadi salah kaprah, sebut saja misalkan ketika menyebut Palang mereka tidak sadar bahwa itu adalah Salib.

[1] pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
[2] kamus.kapanlagi.com/contain/SALIB , kamus.ugm.ac.id/english.php , vvv.sederet.com/translate.php , www.kamusonline.web.id/index.php , kamus.orisinil.com/indonesia-english/salib , kamus.kapanlagi.com/salib , kamus.landak.com/cari/salib , dictionary.web.id/
[3] kamus.ugm.ac.id/english.php
[4] kamus.kapanlagi.com/salib
[5] vvv.sederet.com/translate.php
[6] kamus.orisinil.com/indonesia-english/salib
[7] lihat no.1
[8] Carole Hillenbrand, The Crusade; Islamic Perspective, terj. Heryadi, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2005), cet. Ke-1,
[9]kamus.javakedaton.com/index.php?message=palang&submit=_CARI&option=com_kamus&task=indonesia_arab&Itemid=29
[10] quran.javakedaton.com/?q=salib&submit=Submit

[SN]

 

 

 

One thought on “Mengenal Lambang Bulan Sabit Merah Dan Palang Merah

  1. Saya mengambil posting tentang lambang ini dari Diyah Kusumawardhani di http://akbartanjungbullymaco.blogspot.com, kalau seperti ini penjelasanya baru betul jangan anda memandang bahwa anda yang paling benar dan seolah2 orang lain adalah kafir. dan saya rasa ini adalah sebuah tulisan yg memojokan Palang Merah Indonesia, kalau anda memandangnya secara adil itu baru benar, jd janganlah berbicara mengatas namakan Agama Islam untuk kepentingan Golongan dan kelompok anda semata.

    Tahukah Sob kalau jaman dahulu bendera Islam hanya menggunakan satu warna? Namun bukan berarti bernaung pada satu warna, melainkan hanya menggunakan satu warna saja.

    Bendera Islam, menurut Wikipedia, sebuah bendera yang sesuai dengan aturan Islam. Bendera Islam pada jaman dulu ini hanya menggunakan satu warna. Warna-warna favorit itu adalah hitam, putih, merah dan hijau. Salah contohnya adalah bendera Libya jaman dulu yang berwarna hanya hijau tanpa corak atau motif diatasnya.

    Sejarahnya bendera Islam ini nih Sob, sebenarnya umat Islam pada awalnya tidak memiliki simbol apa-apa. Entah itu lambang ataupun tulisan. Nah, pada masa nabi Muhammad saw, pasukan Islam dan para kafilah menggunakan bendera satu warna untuk tujuan identifikasi. Warna yang digunakan biasanya hitam atau putih. Pada generasi selanjutnya, para pemimpin Islam melanjutkan tradisi bendera ini dengan hanya menggunakan warna hitam, putih atau hijau tanpa tanda, tulisan dan simbol apapun untuk digunakan pada bendera mereka.

    Apa fungsi bendera-bendera ini pada jaman Rasulullah? Ternyata, Rasul menggunakan bendera-bendera ini untuk membedakan warna pada ghazwah (ekspedisi militer atau perang yang diikuti oleh rasulullah) dan sariyyah (ekspedisi militer atau peperangan yang tidak diikuti langsung oleh Rasul). Dikisahkan bahwa para pengikut rasulullah berjuang di bawah naungan bendera putih. Sedangkan bendera utama milik nabi Muhammad dikenal sebagai “al-Uqaab”. Al-Uqaab berwarna hitam, tanpa simbol-simbol atau tanda apapun. Sedangkan nama dan warna itu mengadopsi bendera milik kaum Quraisy.

    Warna-warna juga digunakan sebagai representasi dinasti-dinasti di Arab. Misalnya seperti warna putih yang menjadi warna Dinasti Umayyah. Dinasti Abbasiyah menggunakan bendera berwarna hitam. Dinasti Fatimiyah yang berpaham Syiah menggunakan hijau sebagai warna tradisional mereka, sementara yang digunakan Bani Hasyim adalah merah.

    Pada 1911, saat digelar pertemuan di Istanbul, diputuskan bahwa bendera modern yang mewakili semua orang Arab harus mencakup semua empat warna ini. Tiga tahun kemudian, masyarakat muda Arab memutuskan bahwa negara Arab independen kedepannya harus menggunakan bendera dari warna-warna ini. Pada 30 Mei 1917 Hussein bin Ali, Sharif dari Mekah yang juga pemimpin Pemberontakan Hijaz mengganti bendera merah polos dengan tiga garis horizontal berwarna hitam, hijau, dan putih ditambah segitiga merah di sekitar kerekannya. Ini dipandang sebagai kelahiran bendera pan-Arab.

    Sejak saat itu, banyak negara-negara Arab, setelah mencapai kemerdekaan atau perubahan rezim politik, menggunakan kombinasi warna ini dalam sebuah desain yang mencerminkan bendera Pemberontakan Hijaz. Kombinasi warna ini dapat ditemukan di bendera Irak, Suriah, Yaman, Mesir, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Otoritas Nasional Palestina, Aljazair, dan Sudan, dan mantan bendera Irak dan Libya.

    Ornamen Tambahan Bendera

    Beberapa bendera Arab dihiasi dengan beberapa simbol atau tulisan. Seperti bendera dari Libya, Turki, Tunisia, Turkmenistan, Maroko, Pakistan dan Arab Saudi.

    Pada masa Kekaisaran Ottoman, bulan sabit dan bintang berafiliasi dengan dunia Muslim. Ada sebuah legenda yang menyatakan bahwa pendiri Kekaisaran Ottoman, Osman I, bermimpi melihat bulan sabit membentang dari satu ujung bumi ke ujung lainnya. Ia mentakwilkannya sebagai pertanda baik dan dia memilih untuk menggunakan bulan sabit ini sebagai simbol dinastinya.

    Ada spekulasi filosofi lima titik pada lambang bintang mewakili lima rukun Islam. Dugaan ini bukanlah filosofi bendera Ottoman, dan juga bukan filosofi yang harus ada pada bendera-bendera yang digunakan di dunia Islam saat ini. Bulan sabit dan bintang tidak memiliki signifikansi apapun secara keagamaan terhadap Islam, namun lebih mengarah kepada ikon pagan kuno. Sehingga tidak heran jika banyak sarjana Muslim yang menentang penggunaan tanda-tanda ini di menara masjid atau menggunakannya untuk menunjukkan simbolisasi masyarakat Muslim.

    Ketika Selim I kembali berkuasa sebagai khalifah, bendera Ottoman berwarna merah dengan lingkaran hijau kuning serta dihiasi tiga bulan sabit. Utsmani untuk pertama kalinya memisahkan antara bendera agama dan bendera nasional. Bendera nasional berwarna merah dengan bulan sabit menghadap ke kanan, sementara bendera keagamaan hijau dengan bulan sabit menghadap kanan juga. Kemudian, sebuah bintang bersegi lima ditambahkan untuk melambangkan lima rukun Islam. Khas bendera hijau dengan bulan sabit dan bintang menjadi bendera standard negara Islam.

    Menariknya, sebagian besar orang berpikir bahwa bendera ini telah digunakan oleh umat Islam sejak awal. Bendera bulan sabit ini dengan beberapa variasi masih digunakan oleh berbagai entitas Muslim; misalnya, Aljazair, Azerbaijan, Komoro, Malaysia, Maldives, Mauritania, Pakistan, Tunisia, Turki, Turkmenistan, Republik Turki Siprus Utara, Uzbekistan, dan Sahara Barat.

    Namun berdasarkan sejarah ini pula, banyak umat Islam menolak menggunakan bulan sabit sebagai simbol Islam terutama negara-negara Arab (Aljazair dan Tunisia menjadi pengecualian). Islam secara historis tidak memiliki simbol dan banyak yang menolak untuk menerima apa yang pada dasarnya merupakan ikon pagan kuno ini.

    Selain simbol bulan sabit dan bintang yang paling sering digunakan sebagai ornamen bendera, ada juga tulisan. Yaitu penggunaan kalimat syahadat (la ilaha illa-llāh, wa Muhammad rasūlu-llāh) dan kalimat takbir (Allahu Akbar) yang keduanya dibuat dalam tulisan Arab. Seperti bendera Irak yang menggunakan warna pan-Arab dengan tambahan kalimat takbir, Arab Saudi dan Afghanistan yang menggunakan kalimat syahadat.

    Bendera mengandung kalimat takbir dan kalimat syahadat sangat dihormati, karena merupakan inti dari keyakinan umat Islam. Penodaan terhadap bendera dengan tambahan ornamen tulisan tersebut dapat dirasakan sebagai serangan terhadap Islam tanpa memandang kebangsaan. Sedangkan penyerangan sebuah negara Islam yang benderanya tidak mengandung ungkapan-ungkapan ini, tidak akan dipandang sebagai serangan terhadap agamaIslam itu sendiri, tetapi hanya serangan terhadap negara.

    Bendera yang bertuliskan kalimat syahadat atau kalimat takbir juga banyak digunakan sebagai lambang pada seragam tentara, angkatan laut dan pejabat pemerintah maupun kendaraan. Dalam beberapa kondisi hal ini tidak direkomendasikan. Sebab, sesuai dengan ajaran Islam tulisan-tulisan ini dilarang masuk ke toilet karena tulisan ini diambil dari al-Qur’an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s